Jumaat, Disember 31, 2010

Akhir tahun masihi 2010

Alhamdulillah, tiba pada penghujung tahun masihi 2010. Saya sudah menerima - percuma - dua diari / planner dah sudah pun menanda jadual untuk Januari yang padat. Kedua-duanya berwarna merah.

Dan 2010 menyimpulkan seluruh ketakutan saya kepada semalam, kepada kenangan. Ketakutan yang menjadikan saya takut berhadapan hari esok. Saya sendirilah yang menjadikan diri ini seorang yang penakut!

Semoga lembaran 2011 menghanyutkan semua ketakutan itu, membawa diri ke perjalanan yang lebih memaknakan.

Selamat tahun baru kepada kalian yang singgah dan hinggap di blog ini.

Selasa, Disember 28, 2010

Jangan berhenti mencari

Hari ini dua kali blog Kisah Seribu Teladan di tujah oleh kesahihan fakta dan kebenaran. Saya tidak mahu mendebatkan soalan mereka, tidak mahu terlibat dalam soal-jawab yang  yang nampaknya berunsur provokasi. Malah saya tidak malu mengatakan yang saya tidak tahu apa yang harus saya perkatakan dan tidak tahu untuk memperdebatkan apa. Apa yang saya ada, apa yang saya tuliskan ada kalanya berunsur perkongsian dan pendapat yang bertujuan mengeluarkan persoalan dari dalam diri.

Lalu saya memilih untuk menasihati mereka, kerana anak-anak muda ini nampaknya cepat sahaja panas untuk melompat sebelum memenuhkan ilmu di dada. Nasihat saya:
Kebenaran hanya akan diperolehi oleh mereka yang mencari. Dalam pencarian itu kita akan menemui pelbagai pertelagahan, perdebatan yang mengelirukan dan mendukacitakan. Tetapi jangan kita sesekali putus asa meneroka ruang ilmu. Sentiasalah membuka hati untuk menerima apa-apa pandangan kerana ia lebih mencambahkan minda kita terhadap ilmu. Maksudnya, kalau kita tak faham, lebihkan bertanya dan mencari. InsyaAllah, kita akan dapat jawapan, bukan dengan mempertikaikan mengapa dan kenapa sebelum tiba masanya.
Jalan masih panjang untuk mencari ilmu. Janganlah taksub kepada satu dua pandangan atau satu dua pegangan sehingga menidakkan yang lain. 
Jangan berhenti mencari. Selamat menggali ilmu!

Jumaat, Disember 24, 2010

Buku: Bumi Manusia - 3

Selesai.

Ada bahagian yang membuatkan saya termenung panjang. Pram sangat berani dalam kata-katanya, sangat kuat kritik sosialnya terhadap budaya Jawa. Kemudian saya merenung nasib Interlok dan melihat sejarah panjang  To Kill A Mockingbird.

Senaskhah buku yang tidak seberapa harganya kadang-kala bernilai darah dan airmata.

Rabu, Disember 22, 2010

Sunni Syiah

Muka hadapan akhbar Utusan Malaysia bertarikh 12 Disember 2010 ini begitu memukau. Sehingga kini polemik dan pandangan mengenainya sering menimbulkan emosi. Walaupun begitu, ia menimbulkan keindahan dalam menghujahkan pendapat dan buah fikir walaupun ada yang cuba menangguk di air keruh dengan pandangan dangkal berbaur politik dan berat sebelah.


Lantas saya teringat kepada senaskhah buku pemberian guru saya. Saya teringat-ingat ia masih di rak. Teringat-ingat pesanannya kepada saya.

Hari itu, satu hari dalam tahun ini, saya menempuh jalan yang amat sesak akibat kemalangan. Sepuluh kilometer mengambil masa lebih dari setengah jam. Dan saya amat kesal menyebabkan guru saya ternanti-nanti. Pertemuan itu cuma sebentar, hanya untuk mengemaskini perkembangan diri dan menghadiahkan novel sendiri yang sudah lama tersimpan. Namun pertemuan yang sebentar itulah yang membuka banyak perkara akan sis-sis yang tidak saya ketahui akan susuk tubuh guru saya ini.

Dia memberikan saya buku ini.

Tergamam seketika saya melihatnya judulnya.

"Buku ini diharamkan di Malaysia," katanya. Dan seingat saya dia menambah yang buku itu dibawa masuk dari negara jiran. Sama ada dia membelinya atau pemberian para teman tidak mahu pula saya bertanya.

"Baca dan buatlah sesuatu dari buku itu," sambungnya lagi. Saya membelek buku ini depan belakang. Setelah keluar dari biliknya, saya teringat sesuatu lalu menghantar pesanan ringkas.

"Saya beri sebagai hadiah."

Saya lupa ayat selepas itu dan tatkala membaca beberapa helaian hadapan sudah mendatangkan perasaan teruja untuk menghayatinya selepas itu. Tetapi ia sekadar menghuni rak buku yang semakin penuh. Namun dengan keadaan penuh gelora akan isu pertentangan terhadap kelompok Sunni dan Syiah, saya mencari masa untuk menghayatinya.

Kalaupun buku ini diharamkan di Malaysia, apakah haram juga untuk memilikinya bagi mencambahkan bidang ilmu?

Ahad, Disember 19, 2010

Buku: Bumi Manusia - 2

Nota kecil dari Facebook: 

 

Bumi Manusia menyedarkanku, bahawa sebab musabab Afrika Selatan menjadi pilihan Belanda untuk membuang banyak pejuang dan penentang penjajahan di Indonesia adalah kerana negara itu juga antara negara yang mereka dijajah, khususnya Cape Town. Sekaligus mewujudkan komuniti Melayu (Cape Malays) disana. 

 

Lalu saya terfikir yang asal muasal Cape Malays adalah dari Indonesia, bukan Malaysia. Ada pandangan? 

 

Jawapan dari saudara Muhammad Jailani, kenalan dari Singapura yang kini sedang menuntut di Universiti Malaya: 

 

Saya fikir, usah terlalu menyempitkan takrifan Melayu itu sendiri. Bangsa Melayu adalah sebuah bangsa yang melampaui batas politik. Jelasnya, Indonesia dan Malaysia itu sendiri merupakan entiti politik. Sebelum 1928 dan 1957 tiada istilah Malaysia mahupun Indonesia. Pastinya juga, Cape Malays juga bertapak di sana jauh sebelum tahun-tahun yang disebutkan di atas. Atas dasar itu, tidak wajar untuk kita katakan mereka itu asal Indonesia atau Malaysia kerana kedua-duanya belum wujud pada waktu tersebut. 

 

Saya bersetuju dengan pandangan ini. Oleh kerana nusanrata Melayu sudah dibelah oleh semangat nasionalisme dan negara bangsa, maka wujudlah Malaysia dan Indonesia. Dan mana Cape Malays itupun sebenanrya merujuk kepada rumpun Melayu, bukannya warga Malaysia. Maka, janganlah kita sangka Cape Malays adalah warga Malaysia SAHAJA. Ayat yang sepatutnya ialah rumpun MELAYU.

 

Dan bagi menambah kefahaman akan letak duduknya isu ini, saya pun rajin mengGoogle dan beberapa pautan berikut boleh membantu menambah ilmu didada. Cuma...

Belanda Impor Budak Indonesia ke Afsel

museum nelson mandela 300x211 Belanda Impor Budak Indonesia ke Afsel
Museum Nelson Mandela/ FOto: scanshop.co.za

Dapunta Online – PENGUNJUNG MUSEUM Nelson Mandela bisa menyaksikan tayangan audio visual mengenai sejarah Afrika Selatan (Afsel) beberapa abad yang lalu. Dalam tayangan tersebut disebut-sebut nama Madagaskar dan Indonesia sebagai “pengimpor” budak ke Afrika Selatan yang dibawa para penjajah Belanda (Belanda). Ketika itu, orang-orang Belanda menjadi penguasa di Afrika Selatan, sebelum akhirnya dikalahkan Inggris pada perang Boer.

Anehnya, sebagian besar orang asli Afrika Selatan tidak mengenal Indonesia. Ketika ditanya, apakah Anda tahu Indonesia? Jawaban mereka beragam, “Malaysia?” atau “Cina”, bahkan ada yang mengatakan “Bali”. “Indonesia memang harus bekerja keras untuk memperkenalkan diri. Malaysia lebih dikenal di sana dibandingkan dengan Indonesia. Bahkan, Cape Malay sudah ‘diklaim’ oleh Malaysia. Padahal, tempat tersebut sangat erat kaitannya dengan sejarah Indonesia di Afrika Selatan,” kata Ali Hasan, Wakil Direktur Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC).

Cape of Good Hope adalah tempat pertama kalinya para budak asal Jawa dan Madagaskar mendarat di Afrika Selatan pada sekitar tahun 1652. Para budak tersebut kemudian dinamai etnis Cape Malay. Namun, karena namanya Malay, maka orang-orang Afrika Selatan lebih mengenal Malaysia dibandingkan dengan Indonesia.

Datangnya para budak dari Indonesia disusul dengan pengasingan Syech Yusuf dari Makassar di Cape Town pada 1694 oleh Belanda semakin meneguhkan posisi Indonesia dalam sejarah Afrika Selatan. Bahkan, Syeh Yusuf, ulama muda dan juga pemimpin tentara Kesultanan Banten, juga merupakan penyebar agama Islam pertama di bagian selatan benua hitam ini. Selain Syeh Yusuf, sebenarnya ada nama lain seperti Abdullah Ibn Qadi Abdussalam asal Tidore.

Belanda sangat khawatir dengan perkembangan Islam di Cape Town, kemudian memindahkan dan mengisolasi Syeh Yusuf ke Zandvliet, di luar Cape Town. Namun, upaya Belanda tersebut gagal dan Islam tetap berkembang pesat di Cape Town.

Kesadaran sebagai orang asal Indonesia sudah dirasakan oleh beberapa orang Afrika Selatan terutama para Muslim. Bahkan, mereka langsung menyatakan mereka juga keturunan Indonesia khususnya Banten. Salah seorangnya adalah Ibrahim Salleh, Kepala Sekolah Muslim Bosmont.

Ibrahim mengakui, memang sebelumnya ada “kesalahpahaman” tentang Malay. Menurut Ibrahim, asumsi orang selama ini Malay sama dengan Malaysia, dan mereka juga diidentikan dengan keturunan Malaysia. “Namun, kami sudah tahu anggapan itu salah,” ujarnya.

Ibrahim sendiri tidak mengetahui bagaimana nama tempat tersebut kemudian disebut Cape Malay. “Mungkin karena berasal dari daerah atau kawasan orang-orang Melayu kemudian dinamakan Malay. Sebenarnya pula, para budak tersebut bukan berasal dari etnis Melayu. Para budak disebutkan didatangkan dari Jawa, sedangkan Syeh Yusuf orang Makassar,” ujarnya.

Cape Malay yang sekarang ini juga disebut Cape Muslim, sudah menjadi etnis tersendiri di Afrika Selatan. Pada masa apartheid, etnis Cape Malay masuk dalam golongan kulit berwarna (colored), kastanya lebih tinggi dibandingkan dengan kulit hitam, tetapi di bawah kulit putih.

Populasi etnis Cape Malay sekarang ini sekitar 166 ribu di Cape Town dan sekitar 10.000 di Johannesburg. Orang-orang Cape Malay juga penentang apartheid, salah seorang pimpinannya adalah Farid Esack.

Karena “kesalahpahaman” kemudian “klaim” Malaysia, Indonesia harus berjuang untuk memperkenalkan diri. “Mengubah persepsi orang sangat sulit, tetapi kami akan terus memperkenalkan Indonesia di Afrika Selatan. Indonesia merupakan bagian dari sejarah Afrika Selatan,” ujar Ali Hasan. [*]  PR/DPT

Sumber disini

 

Kan! Dah cakap dah!

 

Lain-lain pautan:

  1. Satu

  2. Dua



 

Buku: Bumi Manusia - 1

Saya sedang membaca Bumi Manusia. Barulah saya tahu kenapa karya Pramoedya Ananta Toer sering disebut orang. Dan tidak pernah saya membaca sebegini laju bagi segera menamatkannya, sering teringat-ingat malah ada watak-wataknya yang menyerap masuk ke dalam diri. Juga sentiasa pula menggaris bawah kata-kata menarik dan mengGoogle fakta yang memerlukan pemahaman selanjutnya.

Saya berjanji kepada diri sendiri bagi menamatkan tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langka & Rumah Kaca) menjelang Februari 2011.

Sepatah kata dari Bumi Manusia yang sangat saya gemari, hingga saya jadikan ia tanda pengenalan untuk wajah baru blog ini:
Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya 

Khamis, Disember 09, 2010

Buku: Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2

Mungkin ada yang menganggap saya poyo - bahasa anak-anak muda- tatkala mahu membicarakan novel Ketika Cinta Bertasbih. Seperti filemnya yang meletup dipawagam tetapi tidak dibawa masuk ke anah air, KCB yang dihasilkan dalam dua jilid ternyata sangat segar dan sihat. Kemas bahasanya dan sopan akhlak pelakunya.Namun ada nada berhati-hati dalam susun katanya. Mungkin sahaja kerana plot banyak bermain di tanah Solo / Surakarta, maka memasukkan budaya dan adat Jawa nampaknya dilakukan berhati-hati oleh Kang Abik.

Saya menonton filemnya dahulu sebelum membaca novelnya. Berikut adalah status yang saya tuliskan di laman Facebook sebagai ulasan spontan selepas habis menonton siri 1 dan 2.

Apa lagi yang harus saya tulis tentang novel ini?


(Entri akan disambung)

Tiga situasi

1) Bicara tentang hujan, siapakah tidak gemar? Dingin menyapa tubuh, cuaca yang tidak gelap dan tidak siang, angin berhembus kuat-perlahan sambil sesekali merembes hujan ke muka, pohon melambai-lambai di tiup kencang sang angin, dan apakah lagi?

Perkara sinonim dengan hujan seperti yang dimaklumi umat manusia ialah tidur tetapi saya tidak sedikti pun teruja menikmatinya. Hujan adalah waktu dimana saya bersegera ke tingkap, membukanya seluas yang boleh, memerhati hujan jatuh dari cucur atap lalu menimpa bumi, melihat air mengalir ke longkang, melewati ke parit lalu membawa ke sungai, melihat sampah yang dibawanya sekali, melihat pokok yang meliang liuk dipukul angin, memerhati langit yang gelap, awan yang diliputi hujan. Pernah dahulu saya cuba mengira titis hujan yang jatuh ke tanah namun cepat sahaja disapu air yang deras mengalir.



2) Saya gemarkan pokok, melihat hijau daun, memerhati burung yang berterbangan lalu hinggap di pucuknya. Dahulu saya sering meluangkan masa berada di hutan rekreasi mengikuti aktivti perkhemahan, kembara, ekspedisi atau apa sahaja bersama teman sepersatuan. Bila sudah bekerja, kadang kala ada waktu-waktu tertentu bila lelah melihat hutan batu, saya ke mana-mana taman-taman atau hutan lipur yang berdekatan. Melihat hijau dedaunan pada pepohon tua yang melambai tinggi seakan terapi untuk membuang hiruk pikuk dunia kerja yang mendera diri. Hutan hijau itu adalah ubat menmbuang lelah dan resah diri. Saya merasa amat nikmat dan nyaman berteduh dibawahnya, membaca buku yang berada ditangan sambil mencium aroma yang keluar dari kelopak bunganya. Datangnya saya dari kawasan di kelilingi hutan, dimana pokok pelbagai jenis mengakrabi diri lekas menjadikan saya tidak betah berlama-lamaan di kawasan yang tidak punya pohon.


3) Ketika di Hatyai, kami ditempatkan di lantai dua puluh lima, satu tingkat sebelum ke paras tertinggi. Dari cermin kaca yang melebar, saya memerhati wajah Hatyai yang suram dan kusam kerana baharu sahaja kebah dari ditimpa bah besar yang melumpuhkan bandar ini. Tiada lain bangunan setinggi hotel ini maka pemandangan saya sungguh tidak terbatas, melampaui segala jenis bangunan rumah kedai, hotel, kediaman, restoran dan seribu satu binaan lain. Nun di hujung sana terdapat semacam bukit yang tidak begitu tinggi yang seolah menjadi titik akhir penglihatan. Kota ini nampak kecil tetapi padat dan terasak-asak. Jalannya kecil, kenderaan yang melewatinya berjalan merangkak-rangkak. Wayar elektrik dan telefon saling berselirat sambung menyambung memberi satu pemandangan yang menakutkan. Tiap kali melihat Hatyai dari aras dua puluh lima, saya mencari-cari dimanakah pokok yang boleh saya jadikan terapi mata.

Tiada.


Lebih lama saya di tempat seperti ini, pasti tidak kan lama saya bertahan. Mujur sahaja datang untuk liburan, kalau tidak lekas-lekas saya cari tempat lain untuk membuang resah.

Rice Without Rain

Minggu lepas, saya berbual dengan Ali Bukhari Amir, seorang anak muda yang sangat kritis dan idealis. Saya gelarnya pemikir kerana saban waktu pasti ada sahaja perkara yang difikirkan, yang bersiponggang dalam cepu kepalanya. Lihat sahajalah entri pada blognya juga pada setiap status Facebook, setiap satunya bukanlah berkisar mahu makan apa hari ini atau penatnya bekerja hari ini. Kata-kata yang diletakkan adalah berunsur pemikiran, pemahaman, pencernaan ilmu dan pengalian maklumat. Pautan serta klip video bukanlah calang-calang, yang bukan diada-adakan tetapi memohon kerjasama dari semua penagih Facebook untuk sama-sama berkongsi pemahaman dengannya.

Kami berbual ringkas sambil menanti. Saya teringat kepada sebuah buku yang diterjemahnya, Rice Without Rain yang disiarkan secara bersiri dalam akhbar Harakah. Saya anggap ia adalah terjemahan secara underground, bermakna diterjemah sendiri tanpa niat untuk diterbitkan oleh mana-mana syarikat penerbitan atau dibukukan walaupun secara peribadi.

Saya sempat mengikuti siri pertama terjemahan dan tidak lagi mengikutinya selepas itu kerana saya bukanlah pelanggan tetap Harakah dan tidak suka terikat dengan sesuatu yang bersiri. Sangat bagus kata-katanya, indah bunga bahasa dan cantik susun atur kata. Ini bermakna karya asalnya juga  bagus, indah dan cantik.

Ali menceritakan asal usul buku tersebut dan terjemahan yang dilakukannya. Menurutnya, "saya mendapat keizinan menterjemah secara langsung dari penulisnya ketika berkomunikasi dengannya."

Teirngat pula saya sedang mengusahakan sebuah buku terjemahan.

"Bagaimana dengan hakcipta?"

"Saya tidak rasa mahu menerbitkan buku ini, sekadar menterjemah secara suka-suka dalam Harakah," balas Ali. Sesuatu yang saya pasti mengapa dia menterjemah Rice Without Rain ialah kerana tema perjuangan dalam novel nipis ini yang sangat memikat, maka Ali menjadi sebati dengannya.

"Ia berkisar kepada perjuangan petani di Thailand yang ditindas oleh tuan tanah. Ketika itu tahun 70-an, zaman dimana para mahasiswa masuk ke kampung bagi membantu menyedarkan para petani supaya mereka bangkit melawan dan bersatu terhadap kezaliman dan kemiskinan yang menyelimuti mereka."


Ali berbicara panjang lebar tentang novel ini. Lantas saya teringat kepada perjuangan mahasiswa tanah air pada zaman 70-an, zaman yang seluruh dunia gelar sebagai zaman the angry young man. Ia adalah waktu-waktu apabila demonstrasi, kemarahan, ketidakpuasan, kedegilan, keadilan menjadi makanan mahasiswa. Meneliti perjuangan mereka, tidak akan hilang rasa ghairah dan teruja untuk turun sama ke jalanan sekiranya masih ada peluang untuk berbuat lagi pada waktu-waktu sekarang ini. Mujurlah sahaja keinginan itu tercapai ketika puncak Reformasi tahun 1998-1999 yang memberi saya peluang berada di Jalan Tunku Abdul Rahman menyaksi sendiri alunan laungan dan jerit pekik memohon supaya keadilan ditegakkan dan kebatilan dinyahkan.

Itu cerita dahulu, ketika memuncaknya demonstrasi dan reformasi.

Ali membawa saya kembali ke alam nyata. Penulis buku ini, Minfong Ho yang berdarah Thailand-Cina menulis berdasarkan pengalaman sendiri yang difiksyenkan. Kisah mahasiswa masuk kampung ini lebih kurang sama dengan perjuangan para mahasiswa di Baling yang tegar denga isu kebuluran, Hamid Tuah yang meneroka tanah di Klang dan sekumpulan mahasiswa lagi di Johor. Mereka inilah bersatu menggerakkan demonstrasi sehingga menyebabkan kerajaan takut dan kecut lalu mencipta AUKU, akta purba yang terus menghukum, memancung dan menggari perjuangan mahasiswa sehingga menjadi lesu dan kaku kala.

Ketika Ali berbicara tentang Rice Without Rain, fikiran saya melayang-layang ke zaman demonstrasi dan reformasi. Entah apa yang dibicarakan dengan panjang lebar, saya mengelamun dengan diri sendiri. Mana bisa masa boleh di ulang kembali. Itu detik manis perjuangan dan terlipat kemas dalam sejarah. Sampai keakhirnya Ali bercerita, saya masih memutar kenangan silam sehingga gagal menagkap kemas bicara Ali.

Dan ia nyata terbalas apabila minggu selepas itu saya menemui naskhah asli Rice Without Rain disebuah kedai barang terpakai. Bagai orang mengantuk disorongka bantal, saya segera menyambar. Dan janji kepada diri sendiri ialah menghadamnya secepat mungkin bagi membalas bicara Ali yang tidak saya endahkan saat mengelamun di Rumah Pena.

Isnin, Disember 06, 2010

Hijrah dan ulang tahun ke-5 (opss 6!)

Blog ini sudah berusia lima enam tahun tatkala saya lahirkannya pada satu Muharam 1427. Betapa cepatnya masa berlalu, betapa jauhnya jarak perjalanan sepanjang lima enam tahun itu. Ia telah melahirkan apa yang saya ada kini. Perubahan perlahan-lahan dapat dilihat pada gaya tulisan, idea (kalau ada), topik dan tema. Perubahan yang boleh dikatakan langkah-langkah ke arah kedewasaan, menuju kematangan, mengorak keupayaan merentasi jalur kehidupan.

Salam ma'al Hijrah 1432 kepada semua pengikut blog, pembaca senyap, teman yang selalu singgah, pengunjung yang tersesat, pengkritik yang sudi menurunkan komen dan sesiapa sahaja yang sudi mampir.

Rabu, Disember 01, 2010

Ke Hatyai 1

Syukurlah saya dikurniakan kesempatan menjejaki Hatyai, sebuah wilayah kecil di tanah selatan Siam. Sebelas tahun lalu - saya masih ingat lagi - berpeluang menjejaki Hatyai, Songkhla juga Satun dalam satu aktiviti yang dianjurkan oleh pihak universiti bersama lapan belas teman. Ketiga-tiga tempat ini menjadi lokasi persinggahan dalam ekspedisi kami di lautan yang bermula dari Satun, mengelilingi kepulauan Langkawi dan berakhir di Kuala Perlis.

Itu cerita dahulu.

Di Padang Besar ketika menanti pasport di cop dan proses pertukaran kepala gerabak. Masa terluang tidak boleh di siakan. Idea datang, ilham mencanak keluar, tangan laju menulis, jari rancak menaip, foto pun di rakam. Inilah kombinasinya

Hujung minggu lalu saya berpeluang ke Hatyai dengan berkeretapi dari KL Sentral bersama rombongan guru-guru dari sebuah daerah di Selangor. Bertolak dari KL Sentral Jumaat (sebelah malam) dan tiba Isnin di KL Sentral (awal pagi) langsung terus ke pejabat. Perjalanan selama empat belas jam, ya 14 jam itu cukup panjang tetapi beberapa acara yang disediakan oleh pihak penganjur tdak menampakkan ia suatu kebosanan. Namun, acara berkaraoke sepanjang perjalanan itu sendiri sudah nampak unsur-unsur tidak serasi dengan saya. Sekejap melayan bolehlah, kalau berterusan menyakitkan telinga sahaja. Saya tidak menghalang atau menegah, tetapi seperti biasa, jika tidak suka saya lebih senang melarikan diri dari bertekak tidak tentu pasal.

Bersama dua teman lain, kami berjalan-jalan sekitar keretapi dari hujung ke hujung gerabak, membuka pintu lalu mengambil udara segar, bergambar di setiap perhentian dan kemudian berhenti di kantin. Lebih senang berbual bicara disini, mencambahkan ilmu dan berkongsi emosi sambil masing-masing dengan buku, pena, komputer bimbit, telefon dan perakam audio menangkap setiap inti perbincangan dan mengecapnya dengan penuh nikmat.
KL Sentral. Tetap membaca sambil menanti

Sewaktu menerima jadual perjalanan, saya sendiri sudah menyangka mengambil masa yang lama. Lalu saya menetapkan buku yang dibawa haruslah tidak berat temanya dan mudah dibawa. Tiga buku inilah yang menjadi teman setiap waktu sepanjang perjalanan disamping buku nota yang sentisa merakam isi hati dan fikiran sewaktu melewati perjalanan yang mengasyikkan.

Saya kira, inilah percutian yang bermanfaat, mengenalkan saya kepada insan yang selama ini saya kenali dari jauh. Kedua-duanya dengan karektar, lalu kami seolah-olah membentuk satu kombinasi menarik dan hebat sehinggakan kelibat kami bertiga menjadi satu igauan dan trauma kepada para rombongan. Bila ada masa terluang, ada sahaja soalan saya tanyakan, sambil seorang lagi menangkap gambar secara curi untuk santapan mata kemudiannya. Perbualan-perbualan inilah yang mencerahkah lalu menimbulkan perasaan gerun kepada ahli rombongan - tiga manusia pelik dengan profil berbeza seolah tersilap masuk ke dalam rombongan walaupun tidak buat kacau.

Ali berdoa semoga Tuan Malim Ghozali PK datang ke gerabak untuk dia bertanya banyak soalan, nyata permintaannya segera di makbul tuhan. Dia bertanya soalan, meletak perakam audio di sebelah, saya menaip status perjalanan dan Bayan dengan kamera seperti biasa.

Paling mengejutkan, satu soalan yang singgah di telinga saya dalam perjalanan pulang. Saya sedang membelek sebuah buku yang baru di beli dari Hatyai - satu-satunya buku yang boleh dibeli dan di baca - ditanyakan satu soalan, "boleh tak berhenti membaca sekejap?" 

Saya terdiam memandangnya yang duduk bertentangan saya disebabkan oleh kedudukan kerusi yang saling berhadapan. Saya terdiam mendengar soalan pelik ini lalu menghulurkan buku ditangan kepadanya yang meminta izin melihat. Dia membelek dari kulit ke kulit, sebuah buku nipis memaparkan kisah dari sebuah filem berjudul Iraq.

"Saya ni kalau rajin membaca, sudah jadi pensyarah sekarang." Dia menyambung sambil ketawa. Entah kepada diri sendiri atau kepada saya, tetapi saya diam juga lalu senyum. Satu senyuman sinis kepadanya. Dalam hati saya beristighfar. Inikah rupa para guru kita yang dalam mendidik anak bangsa pun masih membelakangkan sesuatu yang sepatutnya menjadi keharusan? Saya tiada jawapan untuk itu. 

Keretapi mendesah laju membelah malam yang semakin gelap. Masih berbaki sepuluh jam perjalanan untuk mereka tidur, makan, termenung dan berbual sepuasnya. Itulah makna cuti bagi mereka.



Nota: Kredit semua gambar kepada Bayan yang suka dengan kamera, persepsi sebuah foto pada matanya sangat mencerahkan. Ada sahaja yang menarik di jadikan memori.