Rabu, Jun 01, 2011

Kias Fansuri - M.Nasir

Tak sempat dipapas / Hidangan ku habis
Bila ku terpandang / Dia melangkah / Masuk hendak menjamu selera

Geletar lututku / Di belakang tabir
Bila ku terdengar / Namaku dipanggil / Dia matanya merah menyala
Dia... hadiahkan tubuhku / Tujuh lacutan pedang saktinya / Dia...

Jangan sesekali kau ceritakan / Pengalamanmu Yusuf
Takut-takut mengundang bencana

Siapa tahu / Betapa berat cinta yang ditanggung
Sehingga dia sanggup lakukan / Biar apa saja demi mendapatkan
Restu Sultan cahaya hatinya

Tak sia-sia azam Zulaikha / Bisa jadi cermin mengintai jiwa
Tak sia-sia mimpi Zulaikha / Bisa jadi lorong insan bercinta

Bisikan memujuk / Memupuk nurani
Lalu terbukalah / Pintu yang menghijap

Dia... / Aku kenal dia lama dahulu
Dia... / Yang melamarku dalam mimpi

Kias fansuri / Mawar berduri / Kias fansuri
Lembah yang sepi / Kias fansuri
Madah bersari / Kias fansuri
Langit yang tinggi


Saya bukanlah peminat M Nasir. Lagunya didengar sekadar peneman telinga. Biarlah apa orang kata tentang lagunya, tentang liriknya, tentang sufinya, tentang iramanya.

Namun, akhir-akhir ini tangan jadi ligat pula menekan Youtube dan mencari liriknya. Satu persatu dihayati, digali maknanya. Dicari buku yang sesuai sebagai rujukan, di buka kamus bagi mencari makna, Digodek-godek Wikipedia bagi mencari maklumat yang tercicir. Tak habis dipejabat, di rumah pun lagu-lagu itu sahaja yang dimainkan. Tak cukup mememuat turun, sibuk pula nak cari CD-nya.

Mujur sahaja kereta masih guna pemain kaset.

Benarlah kata orang, bila dah sampai waktu dan ketika, kalau dah gila tu, gila juga.