Ahad, Januari 15, 2012

Wah wah wah


Puisi Ramai-Ramai di Central Park ini di baca oleh Sdr Rahimidin Zahari dalam acara Borak Buku bersama Rahimidin Zahari semalam, 15 Januari. Puisinya panjang dan berkajang-kajang. Tapi yang penting ialah bait terakhirnya. Essence-nya di situ. Selamat menghayati!


Ramai-Ramai di Central Park
(Perayaan Hari Sastera Dunia)

Latiff Mohidin

                    1

Wah wah wah
kelmarin hebat sekali perayaannya
ramai-ramai di Central Park
para sasterawan dari seluruh pelosok dunia
datang berkumpul.

Wah wah wah
mereka datang dengan gaya
dengan warna tersendiri
para pendeta novelis cerpenis
penyair kecil dan besar datang berkumpul
ramai-ramai di Central Park.

Boris Pasternak datang dari Molodi
membawa sepasu pohon yang rendang
Inilah aku !   katanya tenang
sambil tersenyum.

Rabindranath Tagore datang berselipar
dan berbaju labuh putih bersih
dia duduk bersila di depan kami
sambil melukis
tapak tangan seorang kanak-kanak
sambil membacakan Gitanjalinya.

Federico Garcia Lorca dari Gordoba
datang berkuda
dengan riang bagai seorang gypsy
sambil memegang salib
sambil berteriak: Duende !  Duende !
kemudian menghilang dengan kuda hijaunya.

Tu Fu datang dengan Li Po (tentu saja)
Tu Fu yang datang begitu jauh dar Lo-yang
kelihatan agak terhuyung-hayang
dengan botol cap anggur di tangannya
sebelum jatuh terlena dia sempat
           mendongak
ke langit Manhattan sambil berteriak:
Oh sungai di syurga !     Cucilah senjata ini !

Dari Peru datang Cesar Vallejo
lewat kota Paris
tepat pada petang hari Khamis
bajunya kelihatan masih basah
kuyup oleh hujan
waktu membaca sajak yang ketiga (3)
di atas batu hitam berlapis putih
wajahnya muram
seolah-olah hatinya masih pilu di atas
kematian adiknya Miquel.

Dari lembah Khurasan datang Umar Khaiyam
diiringi oleh Fitzgerald sebagai pentafsir bebas
sebelum membacakan Rubaiyatnya
sempat juga beliau menyukat suhu dan berat
air serta angin yang cemar di New York.

Herman Hesse datang dengan
abang angkatnya Friedrich Nietzsche
maka berkatalah Zarathustra
dan mengeluhlah Siddharta
maka mereka pun memberi amaran lagi:
Sudah selesai !     Runtuh segala-galanya !
Habis ranap !    
Nol !  Nihil !     tapi tak seorang mendengarnya.

Chairil Anwar juga datang
langsung dari Pasar Senen Jakarta
menunggalkan Miratnya cintanya jauh di pulau
ketika keluar dari gedung buku
di Greenwich Village
rokok kretek masih tersepit di bibirnya
matanya masih merah menyala
bagai mata seekor binatang jalang.


                     2
Wah wah wah
kelmarin hebat sekali perayaannya
ramai-ramai di Central Park
para sasterawan dari seluruh pelosok dunia
datang berkumpul.

Wah wah wah
mereka datang dengan gaya
dengan warna tersendiri
para pendeta   novelis   cerpenis
penyair kecil dan besar datang berkumpul
ramai-ramai di Central Park.

Walt Wittman datang dari perdalaman Amerika
beberapa bilah hilalang tersangkut
pada rambut putihnya.

George Bernard Shaw datang
dengan semangat muda
memakai t-shirt Superman
(dipinjamnya dari Nietzsche)

ala Marck !   katanya berulang kali
sambil menjeling pada seniwati dari Broadway
yang bergantung pada lengannya
bernama Blondie.

Ernest Hemingway sempat pulang sebentar
tidak jelas lewat Paris Madrid
atau Kilimanjaro
yang jelas dia datang membawa senapang patah
dan sebuah lukisan pemandangan
oleh Paul Cezanne.

Dari Rusia Vladimir Mayakowski
           tak jadi datang
kerana muncung pistol masih melekat
pada pelapisnya sebelah mata kanan.

T.S.Eliot datang dengan pakaian paderi
dia duduk saja di atas batu bernama Rock
tak banyak cakap hanya merenung jauh
ke kawasan tanah tandus yang disia-siakan
tapi dia sempat menyampaikan kepada kami
salam dirgahayu: Ezra Pound yang masih
mengikuti kuliah pendeta Confusius
tentang filasafah ekonomi dan kaligrafi -
mengikutnya Confusius itu orangnya
mudah sekaligus rumit.

Dylan Thomas khabarnya datang
untuk kedua kali ke Amerika
kata orang kedatangannya kali ini
adalah satu kesilapan baginya
bagaimanapun
dia tak pernah sampai ke taman ini
kata orang:   sayang sekali   dia tersangkut
di sebuah bar di lapangan terbang Kennedy.

Mishima Yukio datang
membawa pedang samurai
lalu membuat latihan seppuku
di depan sebuah cermin antik (replika Yunani)
di tepi sebuah kolam tak berombak.

Dari Afrika datang bayangan Aime Cesaire
yang sejak Akkad sejak Elam sejak Sumer
memukul tam-tam dan belafongnya
berjalan dan melompat bagai gerak
seekor harimau akar yang hitam dan indah.

                 3
Wah wah wah
kelmarin hebat sekali perayaannya
ramai-ramai di Central Park
para sasterawan dari seluruh pelosok dunia
datang berkumpul.

Wa wah wah
mereka datang dengan gaya
dengan warna tersendiri
para pendeta     novelis     cerpenis
penyair kecil dan besar datang berkumpul
ramai-ramai di Central Park.
Ciacomo Leopardi datang berpedang dan
berselimut baldu hitam dari Recanati Itali
lalu berdiri di tengah-tengah Central Park
menanti cahaya bulan purnama -
Noia !   katanya sambil menarik nafas
sambil mengeluarkan pisau lipat
yang berhulukan gading dari sukunya.

Rainer Maria Rilke datang dari Eropah
dengan sehelai kertas kosong
dan segelas anggur yang garang     itu saja.

Charles Baudelarie datang membawa
sekuntum bunga durjana dari kota Paris
datang berpakaian serba ungu
untuk bertemu dengan Edgar Allan Poe -
Edgar Allan Poe sendiri tidak dapat hadir
dia hanya mengirim sebuah sketsa
berwarna merah darah
sketsa seekor anjing hitam berkepala dua
yang seakan menyalak di atas kuburan
'Aku pergi meneui Lady Ligeia !
Nanti aku di Plolar '
katanya dalam surat kepada Baudelarie.

Fernando Pessoa datang dari Lissabon Portugal
dengan tiga orang sahabat 'sehidup semati'nya
iaitu Alberto Caeiro      Alvaro de Campos
dan Ricardo Reis (seorang doktor dari Porto)
sambil berdiri mereka mencipta
30 sajak spontan
secara bergilir-gilir
di bawah pohon kembangan.

Sadegh Hedayat dari Iran tak jadi datang
kerana Franz Kafka tak ingin ke New York
mereka masing-masing
mengirim seekor kumbang
dan seekor burung hantu yang buta
sebagai ganti diri.

Fyodor Dostoevski juga tak jadi datang
kerana ditahan oleh Anna     isteri mudanya
serta Karamazov bersaudara di Rusia.

Maka kemudian daripada itu
dari Tanah Melayu
datanglah Munsyi Abdullah
hatta merungut-rungutlah ia akan hal bahaya
tikus dan lipas di kota kosmopolitan ini
dan ...
  
musim dingin '69
New York


Nota:
Munsyi Abdullah. Mengapa Musyi Abdullah? Mengapa bukan Punggok (sepeti yang disebutkan oleh Sdr Rahimidin). Dan fikir saya lagi, mengapa bukan Abd Rahim Kajai. Atau Usman Awang. Atau A Samad Said. Atau Keris Mas (penyair ke?). 


Dan mengapa Munsyi Abdullah merungut akan tikus dan lipas? Saya rasa sebab Munsyi Abdullah yang jiwanya separuh barat itu melihat orang putih sebagai bangsa yang moden maka tikus dan lipas tidak sepatutnya ada di kota besar sana. Jadi bila jumpa tikus dan lipas, dia pun merungut dan terkejut. 

Begitulah yang bermain difikiran saya sehingga puisi ini membuai saya ke alam tidur. 




Kredit kepada http://www.esasterawan.net/esasterawan/1_karya.asp?uid=166&ID=3582

Tiada ulasan: