Selasa, Disember 29, 2015

Za'ba dan Kelebihan Ilmu

Kelebihan Ilmu
Oleh Za'ba (Tersiar dalam Pengasoh, 13 Januari 1922)

Ilmu itulah gemala sakti
Sinarnya cerah cahaya sejati
Asal puncanya lamun didapati
Sukar bercerai sehingga mati

Harganya tidak dapat ternilaikan
Sebuah duna belinya bukan
Kuasanya besar sukat digunakan
Di laut di darat di rimba di pekan

Masa seorang ialah taulan
Teman berbeka, suluh berjalan
Masa berhimpun ia pengenalan
Hias penyata polan si polan

Bagi yang berduka ia penghibur
Ia penerang bagi yang kabur
Ialah kandil di dalam kubur
Lamun dengannya beramal subur

Ia penerang jalan ke syurga
Ia pemuas tekak yang dahaga
Ialah sungai ia telaga
Laut yang luas ialah juga

Ialah alat sangat berguna
Idaman orang yang bijaksana
Hamparnya luas amat saujana
Tepinya ajal sempadannya pana



Isnin, Disember 28, 2015

Yang tidak terkenal di bumi

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.
Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.
Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Rasullah SAW berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua."

"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI
Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari. Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.
Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.
Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”
Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”
Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.
Subhanallah

Sumber asal

Khamis, Disember 24, 2015

Resensi: Kitab Kuning Pesantren dan Tasawwuf


*Resensi di Goodreads

Bab kedua menghuraikan pola perjalanan jemaah haji dari alam Melayu khususnya Indonesia. Van Bruinessen cuba melihat kesan yang dialami oleh jemaah sebelum, semasa dan setelah menunaikan ibadah haji. Namun begitu, beliau terlebih dahulu menyentuh tentang cabaran yang dihadapi jemaah ketika meninggalkan tanahair - dengan menaiki kapal - yang akhirnya menunjukkan separuh atau kurang jemaah yang berangkat, berjaya tiba kembali ke kampung halaman. 

Van Bruinessen cuba membandingkan kesan jemaah yang belayar dan menetap lama di Makkah sebelum kembali pulang, berbeza dengan jemaah kini yang melalui perjalanan pendek dengan tempoh masa yang singkat di Tanah Suci. Dahulu jemaah mengambil peluang berguru dengan para ulama yang mengendalikan halaqah atau sesi pengajian di sekitar Tanah Suci sebelum menempuh perjalanan pulang. Mereka pulang membawa pelbagai sisi dan dimensi pengetahuan baharu yang menjadi jendela untuk mereka melihat dunia. Ini sekaligus menjadi pemangkin kepada semangat nasionalis yang dimulakan oleh para ulama yang berpendidikan di Makkah. 

Dalam arus moden, pemikiran Islam yang masuk bukanlah dari ulama tempatan yang belajar di Tanah Suci tetapi ulama dan pemimpin luar (misalnya Hassan al-Banna, Murtada Mutahhari) yang tidak masuk menerusi 'jalur Makkah'. Keadaan ini menjadikan Makkah bukan lagi pusat intelektual orang Islam yang utama berbanding barat meskipun masih punya ramai ulama yang terampil. Naik haji sudah dianggap sebagai simbol status sosial dan sekadar ibadah tanpa dapat menyumbangkan lebih dari itu, berbanding abad ke-17, 18 dan 19.

Rabu, Disember 16, 2015

Peluncuran buku On Justice

Ini merupakan transkripsi penuh ucapan Sultan Nazrin Shah yang meluncurkan buku terbaru Prof al-Attas yang berjudul On Justice and the Nature of Man di Sasana Kijang pada 16 Disember 2016 yang bersejarah. Undangan terhad dan aku antara insan bertuah dapat mendengar syarahan satu jam Prof al-Attas selepas buku ini dilancarkan. Dah lama tak dengar syarahan Prof dan petang itu terasa damai dan tenang sekali. Gambar-gambar adalah dari kamera ip6 ku dan FB Casis.

----

‘On Justice and the nature of man’ by Prof Syed Naquib al-Attas — Sultan Nazrin


Bismillahi Rahmani Rahim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Professor Syed Naquib al-Attas, distinguished guests, ladies and gentlemen:
Alhamdulillah, I am most grateful that Allah Subhanahu wata‘ala has given me yet another opportunity to be in the company of Professor al-Attas.  Our last occasion was five years ago when I came to launch his Festschrift, a book written by others—mostly international scholars—in honour of this great teacher, entitled Knowledge, Language, Thought and the Civilization of Islam
This time around, however, it is even more humbling for me, as I am here this afternoon to launch Professor al-Attas’ own book entitled On Justice and the Nature of Man.  Although slim, it is by no means lightweight.  Having finished reading it in a relatively short time, I realize that it is not only weighty in substance, but that it will take many more years for me to digest the philosophical insights he has expounded in this small volume. 
In fact, I do not at all see myself as qualified to launch this book, on two counts.  First, as I said five years ago, I consider myself a “child” compared to the venerable professor, whose age of 84 years makes him contemporary with my late father.  And secondly, I am still a novice learner at the foot of the mountain—a musāfir on my riḥlah, my own journey in seeking knowledge and wisdom—compared to the wise old man who already sits comfortably on the mountaintop.  I only hope that now, in his presence, my few remarks today will do justice to this important work.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Professor Syed Naquib al-Attas, distinguished guests, ladies and gentlemen:
Alhamdulillah, I am most grateful that Allah Subhanahu wata‘ala has given me yet another opportunity to be in the company of Professor al-Attas.  Our last occasion was five years ago when I came to launch his Festschrift, a book written by others—mostly international scholars—in honour of this great teacher, entitled Knowledge, Language, Thought and the Civilization of Islam
This time around, however, it is even more humbling for me, as I am here this afternoon to launch Professor al-Attas’ own book entitled On Justice and the Nature of Man.  Although slim, it is by no means lightweight.  Having finished reading it in a relatively short time, I realize that it is not only weighty in substance, but that it will take many more years for me to digest the philosophical insights he has expounded in this small volume. 
In fact, I do not at all see myself as qualified to launch this book, on two counts.  First, as I said five years ago, I consider myself a “child” compared to the venerable professor, whose age of 84 years makes him contemporary with my late father.  And secondly, I am still a novice learner at the foot of the mountain—a musāfir on my riḥlah, my own journey in seeking knowledge and wisdom—compared to the wise old man who already sits comfortably on the mountaintop.  I only hope that now, in his presence, my few remarks today will do justice to this important work.

Ladies and genteman,
As an inheritor of the legacy of Imam al-Ghazālī (d. 1111), Professor al-Attas’ lifelong project has been to look at the philosophy of modern times, explore it, understand it, and then subject it to the tradition of Islam.  In so doing, he has built upon two premisses.  Firstly, that the Islamic tradition has the ability to relate to the contemporary world.  And secondly, that in order for it to do that, the contemporary world must be thoroughly understood.
One might assume that those premisses are obvious and self-evident. Yet, more obvious still is that the level of sophistication in Professor al-Attas’ writings, particularly in his two works, Prolegomena to the Metaphysics of Islam and Islam and Secularism, is not at all common.  Firmly rooted within the tradition of Islam, and having gained a thorough understanding of the varied environment of the contemporary world, like the great Imam al-Ghazālī, Professor al-Attas intends his works to be nothing less than a fulfilment of his obligation to the Ummah, his fardu kifayah, which scholars today such as Dato’ Dr Afifi al-Akiti, from Oxford University, who happens to be the Orang Kaya Kaya Imam Paduka Tuan of Perak, have characterised as a “Neo-Ghazālian, Aṭṭāsian project”.
In this respect, Professor al-Attas is rare among many modern Muslim thinkers in that he does not regard modernity as being in itself a necessarily positive thing: the philosophy of modernity itself has to be subjected to the eternal principles of the Islamic worldview, in order to assess its worth properly.  In his own evaluation, modernity is deeply problematic.  Unlike many of his peers who deride certain aspects of the modern world but not the philosophy of modernisation itself, Professor al-Attas considers that philosophy to be based on premisses that require profound examination.  In a world that barely allows for any counterbalance to the intellectual preponderance of the West, such an unpopular position is hardly without challenge; and indeed this duty must often be accomplished through hardships.
There are very many examples to show that this is a continual theme in his corpus, and several bear mention today.  In his work, The Positive Aspects of Taṣawwuf, Professor al-Attas inimitably draws on the great spiritual tradition of Islam, Sufism, to form the basis of an Islamic philosophy of science.  It is rare indeed that any alternative to the modern understanding of science is posited; that it can be drawn from the depths of Sufi symbolism is particularly unique.  Later on, he chose to develop those ideas in another work, Islam and the Philosophy of Science: this, while the rest of the Muslim world was persistently and stubbornly absorbing all that Western science had to offer without considering how it might conflict with the ethics of Islam.  It was only rarely the case until now, when the ravages upon the environment can clearly be seen, that the West paused to reflect on the excesses of its Industrial Revolution—and yet, the Muslim world continues to pursue technological advancement unreflectively and at all cost.
In his work, The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul, al-Attas draws on the philosophical writings of Imam al-Ghazālī and Ibn ‘Arabī (d. 1240) to develop a framework for an Islamic psychology and epistemology.  In yet another work, The Intuition of Existence, he contrasts a deeply metaphysical and intellectual basis for the Islamic worldview with that of modern philosophy: again, using classical scholars of Muslim thought.  Around the same time as those works, in a book entitled On Quiddity and Essence, al-Attas uses the writings of classical Sunni Ash‘arī theologians such as Imam al-Taftazānī (d. 1390) to express the Islamic worldview in our contemporary idiom, relating it to contemporary notions of metaphysics.  Once again, in a world where Western metaphysics has achieved an intellectual prominence that most in the world today readily accept without question, how distinctive it is that a Muslim philosopher not only sets out an alternative, but does so using the terminology that modern metaphysics understands and appreciates.
Ladies and gentlemen:
Building on his earlier writings, Professor al-Attas in this new book provides us with his Tafsīr, his explication and commentary, of the verses in two Sūrahs of the Qur’an: Sūrah al-Nisā’ and Sūrah al-Mu’minūn.  He shares with us his philosophical insights, which reveal his nearly unique perception, the singular crucial point of this work: that there is an intimate connection between justice, on the one hand, and the nature of man as an individual person, on the other.
On the nature of man, he asserts that the Qur’an, through Sūrah al-Mu’minūn, reveals that man is not merely a genus or a species within Creation, but a new and a special creation: mankind is not only God’s new creation, but we are also a special creation, a creation unique, unlike any other.  What makes us unique and special is the instinctive and natural sense of justice that we—all of us, Muslims and non-Muslims alike—are born with as human beings.
When he comes to the other Sūrah, the Sūrah al-Nisā’, I am particularly attracted to his philosophical deliberations on the concept of justice that arises there.  Relying on the foundations provided by our classical philosophers and theologians, Professor al-Attas gives new meaning to some of the premisses that we now take for granted from our great tradition.  Here, I must quote him extensively.  He contends that:
“Justice is a state of being, a condition of things being in their proper places.  It is also a quality of human act, a quality that springs from moral excellence whose source is wisdom.  This human act of justice is the act of putting things in their proper places...
Justice is therefore a reflection of wisdom[;] and right action, which is an act of justice, is also a reflection of wisdom.  This right action is adab in the complete and universal sense.  Adab is the discipline of body, mind and soul; the discipline that assures the recognition to one’s physical, intellectual and spiritual capacities and potentials...The condition that results from adab in the sense meant, whether in one’s self or in society, is the condition of justice.
Justice [therefore] is the condition of being in the proper place; adab is [therefore] the purposeful act by which that condition is actualized.”
It is the loss of this adab, impeccably described by Professor al-Attas in his teachings, which best describes the current problems faced by the Muslim world.  And I’m afraid that this “crisis of adab” will continue to be with us for quite some time, until we are able truly to transcend it by reconnecting with our true natures. 
I, for one, am persuaded by Professor al-Attas’ sophisticated philosophical arguments that he derives from Sūrah al-Nisā’ and Sūrah al-Mu’minūn to demonstrate the close nexus between our human nature and the concept of justice.
Indeed, the pursuit of justice has to be inextricably linked to the very nature of man, because, I believe, God has created humankind in a state of liberty, free to choose to do good rather than evil or vice versa—whether individually in our own private lives or, for some of us, collectively in our society at large.  That is why all men are created equal in the sight of God, as the Qur’an famously reminds us:
“In God’s eyes, the most honoured among you are the ones with taqwā, those most mindful of Him: God is all knowing, all aware.”
And in another verse, Allah subhanahu wa-ta‘ala says:
“Anyone, male or female, who does good, while believing, We shall grant them a happy life (in this life), and We shall reward them accordingly (in the next life) for their good works.”
Yes, ladies and gentlemen, we are all equal, inasmuch as we all have that freedom as human beings, underpinned by our own fiṭrah, our innate and natural sense of justice, to choose happiness, sa‘ādah, over unhappiness, shaqāwah, in our daily lives, whether acting justly for the public or for our own selves.  Our true inequality is only known by God, the degree of which will only be revealed to us in the next life, by the measure of the justices or injustices we chose to pursue in this life. 
This is why I believe that it is not coincidental but natural, that in almost all of the assertions of any nations’ struggle for free will, freedom and independence we witness that sense of justice linked to the core of our being and to our very human nature, the nature of mankind to pursue freely a good life in this world. 
The oldest such collective assertion for a nation is, of course, the words of Thomas Jefferson (d. 1826) in the American Declaration of Independence written in the eighteenth century:
“We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty and the pursuit of Happiness.”
A more recent one, an assertion made in the last century, one that most of us had the privilege to know in our own lifetime, is the Inaugural Address made by Nelson Mandela (d. 2013) as the President of a new, freed nation of South Africa.  He said:
“Let there be justice for all.  Let there be peace for all.  Let there be work, bread, water and salt for all.  Let each know that for each the body, the mind and the soul have been freed to fulfil themselves.”
In fact, however, the one that speaks most to my heart and makes my spine tingle and I hope does so for others’, too, especially persons in positions of authority—or to use the term adopted by Professor al-Attas, “the Keepers of Trusts”—is the assertion made by the father of our nation, Yang Teramat Mulia Tunku Abdul Rahman Putra Al-Hajj Al-Marhum (d. 1990).  In the Proclamation of Independence of our own country, he declared that our beloved country (quote)
“is and with God’s blessings shall be forever a sovereign democratic and independent State founded upon the principles of liberty and justice and ever seeking the welfare and happiness of its people and the maintenance of a just peace among all nations.”
So let me say, ladies and gentlemen, that justice is what allows us all as human beings to pursue the good life and happiness that we all equally yearn for and indeed have a right to.  So long as we are true to ourselves and are guided by the sense of justice that God has created through our human nature—that unique and special creation of God that is in fact mankind—the pursuit of happiness will not only be realized as one of our unalienable rights as individual human beings, but also that we will be able to achieve a just and happy society.
As a khalīfah, a steward and representative of God in this life, but especially as someone entrusted with public office as one of the Possessors of Command, the Ūlū l-Amri, and the Keepers of Trusts, the Ahli l-Amānāt, I pray always that I can be faithful to this command of Allah Subhanahu wata‘ala in Surah al-Nisā’:
“O’ you who believe, uphold justice and bear witness to God, even if it is against yourselves, your parents, or your close relatives!  Whether the person is rich or poor, God can best take care of both.  Refrain from following your own desire, so that you can act justly—if you distort or neglect justice, God is fully aware of what you do!”
This divine Qur’anic principle of upholding justice reminds me of my late father’s moving Amanat and message to the Keepers of Trust, in his context, that of judges, asserting the need for them to maintain their freedom and independence.  In 1979, Raja Azlan Shah, as he then was, fittingly said:
“Untuk memastikan supaya tanggungjawab itu dijalankan secara adil dan saksama, tanpa mengenal bulu dan roma, tanpa mengenal asal keturunan, bangsa dan agama, tanpa menyebelahi mana-mana pihak, maka orang yang menjawat jawatan hakim mestilah terdiri dari orang yang bebasbebas dari tekanan politik, bebas dari desakan Parlimen, bebas dari pengaruh kawan; dan keputusan yang dibuat adalah keputusan yang berlandaskan undang-undang... Dengan adanya jaminan itu, maka dapatlah Mahkamah menjalankan tanggungjawabnya secara licin, jujur dan berani demi kepentingan keadilan dan bukannya untuk kepentingan mana-mana parti pemerintah.” 
That essential Qur’anic principle of upholding justice should also remind us all of the principle of natural justice expressed in the oft-quoted aphorism of the British Lord Chief Justice Hewart, in 1924:
“Not only must justice be done, it must also be seen to be done.”
Ladies and gentlemen:
Those are stirring words—the heaven-derived ones and the ones deriving from our own human nature.  But how is that principle to be actualized and, just as crucially, why?
On this, I cannot but help end with the thoughts of our first Prime Minister at the birth of our nation.  In my estimation he perfectly sums up the natural consequences of our actions when we, the Keepers of Trusts, uphold justice in all aspects of our lives, including the way we run our nation.  For only then can we truly be what I would call the “Keepers of Justice,” only when we ourselves are able in turn to bequeath our nation to our sons and daughters in the original—if not in an even better—state   in which we inherited from our Founding Fathers.  In the presence of all of Their Royal Highnesses the Nine Malay Rulers on that much-hallowed Merdeka Day, our Tunku described this inheritance as follows:
“Justice before the law;
the legacy of an efficient public service;
and the highest standard of living in Asia.”
With this timely reminder given by Tunku Abdul Rahman to us, the inheritors and children of Malayan, and later, Malaysian liberty, it now gives me great pleasure to launch this profound and useful guide for us all: On Justice and the Nature of Man by Professor Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
Bismillahi Allahu Akbar!
Thank you.


Sabtu, Disember 12, 2015

The higher sufi

"It is clear that the position of the higher Sufis is not like what their opponents accused them of, that the former 'overlook the essential disparity of God and man taught by the Qur'an'. The intuition of the Reality of Existence, thus involves both the psychological and the ontological realms. The true vision if the Ultimate Reality accessible to man is based on the second stage of the intuition of Existence, which affirms both God as a Reality as well as realities other than God, and which affirms both God's Transcendence and His Immanence in relation to them."


Sumber:
The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization by

Jumaat, Disember 11, 2015

Jatuh motor edisi kedua

Basah oleh hujan. Jatuh terseret atas jalan. Eh kereta, bagi signal sebelum belok, bukan semasa belok ya.

Kisahnya, hujan. Kereta membelok mengejut dengan signal tiba-tiba. Kereta-kereta lain terpaksa buat emergency brake. Penunggang motosikal punya dua pilihan - langgar kereta depan atau buat emergency brake sampai tergolek atas jalan... .

Perkara pertama yang aku buat selepas terseret atas jalan ialah tengok kereta belakang. Kemudian bangun, jalan sikit, kebas tangan dan kaki kemudian tengok motor. Brader-brader yang lain cepat-cepat tolong angkat motor, aku pula selamba betulkan tali kasut. Eh, sebenarnya tengah pening lalat. Nasib baik kereta belakang perlahan dan sempat brek, kalau tak entah kena lenyek hehe... .

Kawasan jatuh tadi kurang lima minit dari rumah. Sampai sahaja makan nasi dulu dalam keadaan tangan masih mengigil (sejuklah). Kemudian baru mandi dan bagi laporan (aduan :)) pada kawan (kemudian kena marah :(). .

Kaki kanan, tangan kanan, tengkuk kiri sakit juga ni. Biasalah, after shock. Semoga esok tak ada apa-apa untuk kelas dan syarahan panjang hingga malam.

Ah, lepas makan nasi dan mandi, terus ke bengkel. Tampal tayar belakang dan tarik brek. .

Sekian cerita Jumaat, 11 Disember 2015